Batu merah delima

Mentari telah beberapa jam kembali ke peraduannya,digantikan oleh sang malam menyelimuti marcapada.
Ku rebahkan tubuhku di atas tikar sebagai alas tubuhku tiap hari,ku tatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu 5 watt,tanpa terasa mataku terpejam lelap menuju alam mimpi.
Dalam mimpi aku berada dimakam ibuku,tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan bahwa ibuku sebenarnya tidak berada dimakam itu,namun sudah pindah ke gunung ciremai.
Dengan kesal ku jawab suara itu bahwa ibuku berada dimakam ini,karena aku sendiri yang telah ikut menguburkannya.Suara itu hanya menjawab dengan tertawa lalu kembali sunyi.
Terbangun aku dari tidur sambil memikirkan mimpiku tadi,ahh ku pikir hanya bunga tidur,lalu kembali ku terlelap tidur.
Kembali aku bermimpi melihat sebuah rumah dihiasi taman didepannya,sementara disamping rumah terdengar suara air sungai  mengalir.
Aku tersadar dari mimpiku dibangunkan oleh suara adzan subuh,segera ku tunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Siang hari aku kedatangan teman lamaku yang sudah lama tidak bertemu,setelah berbincang sejenak dia memintaku menemaninya ke tempat guru spiritualnya di daerah rajagaluh.Karena memang tidak ada kerjaan akhirnya aku ikut temanku itu.
Perjalanan dengan motor sekitar 4jam sampai dikota rajagaluh.Sampai dihalaman rumah guru temanku,aku sedikit terkejut karena rumah itu persis yang ada dalam mimpiku tadi malam.
Dari dalam rumah muncul seorang nenek yang ternyata itu guru temanku.Namun anehnya dia terkejut melihatku dan mengatakan kenapa aku baru datang,padahal aku sudah lama ditunggu.
Aku terheran,karena baru pertama kali aku ke daerah itu dan melihat nenek itu.Yang lebih aneh nenek itu memanggilku dengan sebutan raden,padahal yang aku tahu aku hanyalah anak seorang petani biasa.
Aku di ajak masuk ke tempat semedi nenek itu,ternyata dia mau menguji aku tentang kebenaran siapa leluhurku.
Didalam tempat semedi aku lihat banyak barang pusaka jaman dulu,ditengahnya tegak sebuah patung(wayang golek) berpakaian ala kerajaan(belakangan ku tahu itu dinamakan golek kancana).
Tiba-tiba semua pusaka di tempat itu bergetar,dan wayang golek berputar dengan kencangnya entah pertanda apa itu.
Dengan heran kulihat nenek itu tersenyum sambil berkata bahwa benar aku orangnya yang selama ini ditunggu.
Singkat cerita,malam hari seusai sholat isya aku kembali diajak oleh nenek itu ke tempat semedinya,katanya ada titipan dari ibuku.Bingung aku mendengarnya,karena ibuku sudah lama meninggal.
Nenek itu mengeluarkan sebuah kelapa muda utuh yang baru diambil oleh temanku,nenek mengatakan didalam kelapa ini ada titipan dari ibuku yang nenek itu pun tak tau apa isinya.
Kubelah kelapa itu,tiba-tiba terpancar sinar merah menyilaukan dari dalam kelapa.Dengan sedikit menahan silau,ku ambil sebuah barang dari dalam kelapa itu.Setelah ku sentuh,sinarnya sedikit meredup.Ternyata isinya sebuah batu merah berukuran lebih besar sedikit dari biji kacang ijo.
Nenek terkejut sambil mengucap takbir,lalu berkata dengan nada senang bahwa itu adalah batu merah delima.
Kembali aku berkumpul diruang tamu dengan temanku.Aku bertanya kepada nenek bahwa bukan itu yang membuatku heran,tapi tentang asal batu itu yang katanya pemberian ibuku.
Dengan lembut nenek bercerita,bahwa setiap malam jum'at sekitar jam 3 pagi ibuku datang menemui nenek untuk minta air kelapa hijau.kata nenek sekarang ibuku bertempat tinggal di kaki gunung ciremai bersama suaminya yang baru dari kerajaan gaib pasundan.
Kata nenek ibuku sekarang bernama ratu ayu nyimas koneng,dan ibuku banyak bercerita tentang aku.
Semakin aku bingung dengan penjelasan nenek tadi,bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi.Nenek bilang silahkan jika aku ingin bertemu ibuku,dan nenek memberikan petunjuk arahnya padaku.
Namun aku belum berniat mengunjungi yang katanya mengaku ibuku itu,karena tujuanku kesitu hanya mengantar temanku.
Aku bertanya pada nenek imbalan apa yang harus ku berikan atas batu merah delima ini,nenek bilang tidak usah memberi apa-apa karena ibuku juga sudah memberi upah ke nenek.Lalu nenek mengeluarkan perhiasan emas berupa kalung,cincin,dan gelang dengan ukuran besar yang katanya itu adalah upah pemberian ibuku.
Dalam kebingungan,sebelum pamit aku memutuskan menitipkan batu merah delima ke nenek.Aku merasa usiaku masih terlalu muda untuk membawa batu pusaka itu,aku berkata ke nenek bahwa suatu saat jika aku sudah matang aku akan kembali untuk mengambil batu pusaka itu.
Setelah itu aku pamit kembali  ke kota K bersama temanku dengan membawa segumpal pikiran tentang cerita nenek tadi.Dalam hati aku berjanji suatu saat aku akan ke kaki gunung ciremai menemui yang mengaku ibuku tadi.
Sampai disini dulu sedikit kisahku ini,insyaallah dilain waktu akan ku ceritakan kisah hidupku yang lainnya.
Ambil hikmah dan pelajaran dari kisahku tadi,jangan lihat dari siapa yang bercerita,tapi lihatlah hikmah dari ceritanya.
Silahkan jika ada teman-teman yang ingin bercerita,komentar,ataupun musyawarah.Semoga bisa jadi hikmah pula untukku.
Terima kasih

Komentar